Karena Dia Manusia Biasa (Jodoh)
Tak Berkategori September 1st, 2008Mengapa?? ‘ Karena Dia Manusia Biasa ‘
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan
pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga
jawaban duniawi (cakep atau tajir
manusiawi lah :P). Tapi ada satu
jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih
ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru
saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya
berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya
dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak
akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah
akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang
sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki
membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan
menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal
sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya
tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya
selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli.
Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa.
Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang
sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa
membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya
untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.
Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.
Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk
persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal
rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga
kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga
ingin bercerita banyak pada saya.
Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya
paham kondisinya saat ini.
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.
Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara
banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya
terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang
menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah
pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci
meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.
Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop
surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti.
Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat
diatas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi
surat itu.
Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan
calon kakak buat adik-adik saya
Di tempat
Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda ……
untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia
biasa. Saat ini saya punya pekerjaan.
Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi
yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi
kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah.
Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti,
saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan
dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak
kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk
mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan
kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja.
Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan
merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita
nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan
jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami
dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak
tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali,
dan saya semakin mantap memilih anda.
Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya
menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya
tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya
kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali
ini saya membaca surat ‘lamaran’
yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat
disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku
tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.
Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau
suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga.
Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah
tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu.
Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak
ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan
berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan
bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila
proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’.
Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan.
Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan
yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan
untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua
menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.
Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu
menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.
Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua
yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.
Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar
cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan
yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau
diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.
September 1st, 2008 at 09:33
Luar biasa… Aku yakin surat lamaran itu dibuat oleh lelaki yang tau arti hidup dan sudah banyak pengalaman tentang asam pahit kehidupan. Seandainya lelaki itu adalah aku….
September 1st, 2008 at 09:39
Masih adakah manusia biasa seperti ini buat hamba Allah yang selalu menantikannya??atau akan terjawab dengan cara Allah yang berbeda??aku berharap untuk mendapatkannya…..:)
September 1st, 2008 at 09:50
Sharing pengalaman yang berkesan dan bermakna
Saya jadi speechless waktu baca postingan Anda
Salam,
September 1st, 2008 at 10:00
Waaaww……..
Ruuuaar Biasaa..
ceritanya bener2 membuka pandangan baru ttg pernikahan
terus terang ini adalah konsep pernikahan yg paling logis menurutku
aq setuju bgt kalo cinta itu proses. bisa tumbuh belakangan.
mmhh….
September 1st, 2008 at 10:03
artikelipun sae sanget..
matur suwun, sampun nambah pengetahuan lan referensi kulo, kangge ngadepi “proses” madosi sigaraning nyowo ingkang sakmeniko taksih petheng.. ndedet..
serat lamaranipun saget dipun tiru…
witing tresno jalaran soko kulino..
September 1st, 2008 at 10:03
Bagus..
September 1st, 2008 at 10:07
hiks…bagus banget kisahnya..
karena dia manusia biasa….
kadang memang susah menjadi manusia biasa. lebih susah lagi menerima manusia biasa…
September 1st, 2008 at 10:12
luar biasa.. apalagi kalo bacanya pake backsound “from this moment…”
September 1st, 2008 at 10:33
Amazing stories. It happens to me… untuk alasan berbeda, bekenalan dan bertatap muka pertama kali dengan calon istri 2 April 2005 jam 9 pagi. Melamarnya 2 April 2005 jam 9 malam di McD. ketemu sebentar dalam weekend2 di bulan april dan akhirnya menikah pd tanggal 08 Mei 2005. don’t know why she choose me… yang pernah dia bilang sih karena dia sayang sama orang tuanya…. dan sekarang dia juga sayang sama mertuanya. btw gw juga berhenti bekerja karena kontrak selesai 8 mei 2005. She knows that.. and she said don’t be pesimistic you’ll get another job soon.
from
yg sedang mencoba menjadi bapak yang baik
September 1st, 2008 at 10:58
sangat terharu d cerita ini …sungguh memang karena manusia itu biasa …
September 1st, 2008 at 11:00
semua indah jika berdasarkan hati nurani, tidak ada embel2 keduniaan.Hanya kepada Allah SWT kita berserah diri.bagus juga ceritanya agar kita tidak terlalu mensyaratkan sesuatu dengan hal keduniaan ( HARTA.PANGKAT dLL )
September 1st, 2008 at 11:07
sangat menyentuh… iya kita adalah manusia biasa yang mempunyai Allah Yang Maha Luar Biasa yang bisa merubah suatu keadaan menjadi luar biasa
September 1st, 2008 at 11:46
kliatannya pernah baca deh tuisan ini, dimana ya?
September 1st, 2008 at 11:46
wiwww
keren!!
September 1st, 2008 at 11:47
Selamat……….!! itulah CInta yang di cari………..
September 1st, 2008 at 11:59
good…good….. manusia biasa yang membutuhkan orang lain untuk membuat hidupnya lebih lengkap dan berwarna….
September 1st, 2008 at 12:07
waw……
subhanallah…ternyata msh ada laki-laki seperti itu di dunia fana ini…..
September 1st, 2008 at 12:09
haalaaahh… indah karena diterima!coba ditolak,bakalan menggelikan dan memalukan tuh suraat….. tapi memang ini cerita buat yg oke2 aja kisah cintanya.buat yg terlunta2 karena cinta ditolak, maju terusss… sampai tak kuat lagi utk patah hati!!!!!!!!!!
September 1st, 2008 at 12:16
keknya udha pernah baca dhe …. tp lupa dimana .. hehehe
September 1st, 2008 at 12:17
bgz bgt artikelx…
bukti seseorang yg tidak trll mencemaskn masa depan
krn yakin akan jalan terbaik dr Allah SWT
September 1st, 2008 at 12:21
Memang, segala sesuatu itu gimana niat. Dan tentunya kita harus mempercayakan segala sesuatu kepada Alloh. Karena Dia mengetahui apa yg terbaik bagi kita. Yg jelas kita harus tulus dan ikhlas dlm menjalaninya.
September 1st, 2008 at 12:48
BAGUS dan Mengharukan….. masih adakah lelaki seperti itu yg diutus oleh ALLAH SWT untuk aku…. mudah-mudahan yaaaa..
September 1st, 2008 at 12:55
sip, smoga yang ditulisnya dapat direalisasikan di kehidupan setelah pernikahannya.
September 1st, 2008 at 13:04
keren banget nich(dapet inpirasi dari mana ya?)…..
September 1st, 2008 at 13:34
Maaf ya nupang agar terkenal, memang “oke” ceritanya bagus buanget
September 1st, 2008 at 13:35
love will find the way..
insyaallah..ikhlas menerima apapun yang sudah ditakdirkan menjadikan kita manusia yang lebih bertaqwa lagi..amien
September 1st, 2008 at 13:43
maaf..
saya dah pernah baca tulisan ini lebih dari 2 tahun yang lalu, sama persis..
biar gak terjadi salah paham..mohon klarifikasi..kecuali penulisnya sama..
Tetap Semangat dan Salam Dahsyat
September 1st, 2008 at 14:04
Thanks banget buat comment nya….^_* yup..artikel itu nurul peroleh dr teman Nurul..jd mungkin ada yg dah pernah baca ya…ya udah..sekedar mengingatkan kita bahwa kita semua ini hanyalah manusia biasa dan tdk ada yg patutu kita sombongkan..ceritanya sgt menyentuh kalbu..^_^
September 1st, 2008 at 14:09
hmm menyentuh bgt …..
September 1st, 2008 at 17:50
semua umat manusia tidak diciptakan sama. sungguh beruntung pasangan suami istri diatas, yang sama2 saling mengerti, mah bagaimana dengan garis tuhan yang harus pasangan tidak pernah akur untuk selamanya……
semua adalah rahasia tuhan manusia hanya bisa berdoa dan berusaha
September 1st, 2008 at 23:12
Subhanallah…
Mungkin benar bahwa manusia akan menjadi luar biasa saat bisa melepaskan dari kebiasaan-kebiasaan manusia…
Kebiasaan-kebiasaan itu adalah ingin punya ini itu, ingin kaya, ingin lebih lagi. Yang semuanya adalah contoh mereka ingin menjadi luar biasa.
Jadi selama ingin menjadi luar biasa manusia tetap seorang biasa
September 1st, 2008 at 23:54
hhhmm.. interesting..
September 2nd, 2008 at 11:40
Whuaaah, bisa jadi reference buat ngelamar juga tuh suratnya.. Xixixixi..
September 3rd, 2008 at 22:56
aku juga manusia biasa lhooo…!! kakakakakaakka
September 5th, 2008 at 07:49
senang y kak,,,kLo kita sbg wanita mendapatkan Laki2 seperti iTu
September 6th, 2008 at 13:32
waw…. menyentuh bgt….. hiks… hiks…